============================================================================== ==============================================================================

Jumat, 23 Desember 2011

LANDASAN PENDIDIKAN


Mata kuliah ini mendeskrispikan materi tentang pengertian, fungsi dan jenis landasan pendidikan, konsep manusia sebagai asumsi pendidikan, konsep pendidikan, landasan filosofis pendidikan, landasan psikologis pendidikan, landasan sosiologis pendidikan, landasan antrofologis pendidikan, landasan historis pendidikan, dan landasan yuridis pendidikan. Perkuliahan dilaksanakan dengan pendekatan     ekspositori dan inquiry dalam bentuk  ceramah, tanya jawab, diskusi dan pemecahan masalah. Tahap
penguasaan mahasiswa dievaluasi melalui UTS, UAS, tugas laporan bab, presentasi dan partisipasi dalam diskusi. Buku sumber utama: Tim Dosen Mata Kuliah Landasan Pendidikan. (2008). Landasan Pendidikan. 

KOMPETENSI PERKULIAHAN
Meningkatkan wawasan mahasiswa tentang konsep, fungsi dan jenis-jenis landasan pendidikan, serta mampu mengaplikasikannya dalam praktek pendidikan sekolah dan luar sekolah.

MATERI PERKULIAHAN
I. MATERI 1: PENGERTIAN, FUNGSI, DAN JENIS LANDASAN  PENDIDIKAN

A.  Pengertian Landasan Pendidikan
Landasan mengandung arti sebagai alas, dasar, atau tumpuan. Istilah landasan dikenal juga sebagai fundasi. Jadi landasan adalah suatu alas atau dasar pijakan dari sesuatu hal. Landasan pendidikan adalah sperangkat asumsi yang dijadikan titik tolak dalam dalam rangka pendidikan. prinsip-prinsip, teori, asumsi yang menjadi acuan dalam melaksanakan pendidikan

B.  Jenis landasan pendidikan
Secara garis  besar landasan pendidikan terbagi ke dalam dua kategori, yaitu landasan ideal, dan landasan factual. Landasan ideal adalah konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau teori-teori yang seharusnya dan sifatnya normatif yang menjadi acuan dalam rangka pendidikan. Termasuk landasan factual adalah
landasan religius pendidikan, landasan filosofis pendidikan, dan landasan yuridis pendidikan. Sedangkan landasan factual adalah konseo-konsep, prinsip-prinsi, dan teori-teori yang dihasilkan melalui kajian empiric atau ilmiah yang menjadi titik tolak dalam rangka pendidikan. Termasuk ke dalam landasan factual pendidikan adalah landasan psikologis pendidikan, landasan sosiologis dan antrofologis pendidikan, landasan historis pendidikan,  landasan ekonomi pendidikan, landasan manajemen pendidikan, dan landasan politik pendidikan.

C.  Fungsi landasan pendidikan
Landasan pendidikan memiliki fungsi bagi para pendidik dan atau tenaga kependidikan, dan para ahli pendidikan. Bagi pendidik, landasan pendidikan berfungsi sebagai titik tolak,  acuan dalam rangka melaksanakan tugas profesionalnya merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pendidikan.
Bagi tenaga kependidikan, landasan pendidikan juga berfungsi sebagai tempat berpijak atau dasar dalam melaksanakan tugas profesionalnya  seperti mengembangkan kurikulum, melaksanakan penelitian dan pengembangan pendidikan, dan mengelola pendidikan baik dalam lingkup mikro maupun lingkup makro.


II. MATERI 2: MANUSIA SEBAGAI ASUMSI PENDIDIKAN
A.  Dimensi hakikat manusia
1. Dimensi individualitas, mengandung arti bahwa manusia itu adalah suatu kesatuan yang tak dapat dibagi-bagi antara aspek jasmani dan rohaninya. Manuia juga bersifat unik atau khas artinya berbeda antara manusia yang satu dengan manusia lainnya baik secara fisik, psikis, maupun soaial. 


2. Dimensi sosialitas, mengaudng bahwa manusia itu pada dasarnya adalah mahluk yang mampu bermasyarakat, memiliki kecenderungan untuk bekerja sama, bergotong-royong, dan saling tolong-menolong
3. Dimensi Moralitas, mengandung arti bahwa manusia adalah mahluk yang
memiliki keterikatan dengan nilai-nilai, norma-norma baik norma
masyarakat, norma agama, norma hokum. Manusia memiliki kata hati
artinya mampu membedakan hal yang baik dengan yang tidak baik
4. Dimensi religiusitas, artinya manusia adalah mahluk yang memiliki
kecenderungan untuk mengakui adanya zat yang supernatural atau memiliki
keyakinan terhadap adanya yang Maha (Maha Esa, Maha Kuasa, Maha
Besar) 3

5. Dimensi historisitas, artinya keberadaan  manusia pada saat ini terpaut
kepada masa lalunya, ia belum selesai mewujudkan dirinya sebagai
manusia, ia mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya
6. Dimensi komunikasi, artinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya,
manusia berinterkasi/berkomunikasi baik secara vertical (dengan
Tuhannya) maupun secara horizontal (dengan sesame manusia dan alam
semesta)
7. Dimensi Dinamika, artinya manusia tidak pernah berhenti, selalu dalam
keaktifan, baik dalam aspek fisioligik maupun spiritualnya

B. Manusia sebagai makhluk yang perlu dan dapat dididik
1. Manusia sebagai makhluk yang perlu dididik
Sebagai mahluk yang perlu dididik menunjukkan bahwa manusia itu
memiliki keterbatasan, manusia adalah mahluk yang tidak berdayam
mahluk yang belum selesai, mahluk yang terbuka dan serba mungkin.
Karena itu manusia perlu dididik.
2. Manusia sebagai makhluk yang dapat dididik
SEbagai mahluk yang dapat dididik menunjukkan bahwa sekalipun
manusia memiliki keterbatasa, akan tetapi manusia juga memiliki berbagai
potensi, atau kemampuan  dasar yang dapat dikembangkan. Potensi yang
ada pada manusia itu memungkinkan manusia untuk dapat dididik. Manusia
dapat menjadi manusia adalah mahluk yang dapat dididik hanya melalui
pendidikan. 


III. MATERI 3: PENGERTIAN PENDIDIKAN
A.  Pengertian Pendidikan Berdasarkan Lingkupnya
1. Pendidikan dalam arti Luas 4

Artinya, pendidikan adalah segala bentuk pengalaman belajar  di berbagai
lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif  bagi
perkembangan individu

2. Pendidikan dalam arti sempit
Artinya, pendidikan hanya berlangsung bagi mereka yang menjadi seiswa
pada suatu sekolah, atau mahasiswa pada suatu perguruan tinggi (lembaga
pendidikan formal). Pendidikan dilakukan dalam bentuk pengajaran yang
terprogram dan bersifat formal. Pendidikan berlangsung di sekolah atau 
atau di dalam lingkungan tertentu yang diciptakan secara sengaja dalam
konteks kurikulum sekolah yang bersangkutan.

B.  Pengertian Pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah dan Pendekatan Sistem
1.  Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Ilmiah
Pendidikan berdasarkan pendekatan ilmiah adalah pengertian pendidikan
yang dipandang berdasarkan satu disiplin ilmu tertentu, misalnya menurut
psikologi, sosiologi, politik, ekonomi, antrofologi, dan sebagainya.
Berdasarkan pandangan psikologi pendidikan adalah suatu proses
pengembangan diri indiuvidu. Sosiologi memandang pendidikan sebagai
suatu proses menyiapkan individu agar menjadi warga masyarakat yang
diharapkan. Menurut pandamgan politik, pendidikan adalah suatu proses
penyiapan warga Negara yang baik. Ekonomi memandang pendidikan
adalah penanaman modal dalam bentuk tenaga kerja terdidik. Antrofologi
pendidikan mengartikan pendidikan sebagai suatu proses pengembangan
manusia sebagai mahluk yang berbudaya.
2.  Pengertian Pendidikan Berdasarkan pendekatan Sistem
Artinya pendidikan adalah suatu keseluruhan karya manusia yang
terbentuk atas komponen-komponen yang saling berhubungan secara
fungsional dalam rangka mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Pendidikan adalah suatu proses transformasi input menjadi output)

C.  Pendidikan sebagai Humanisasi
Sebagai humanisasi, pendidikan meliputi berbagai bentuk kegiatan dalam
upaya mengembangkan berbagai potensi manusia dalam konteks dimensi
keberagamaan, moralitas, individualitas/personalitas, sosialitas, dan
keberbudayaan secara menyeluruh dan terpadu.

Latihan/Tugas:
Carilah 10 konsep tentang pendidikan  dari materi yang telah anda pelajari, beri
cotohnya!


IV. MATERI 4: PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU DAN SENI 
A.  Pendidikan sebagai ilmu
Sebagai ilmu, pendidikan adalah suatu disiplin pengetahuan sistematis tentang
pendidikan yang diperoleh melalui riset atau penelitian. Sebagai ilmu,
pendidikan memiliki karakteristik: memiliki objek studi, metode, isi, dan
fungsi. Objek ilmu pendidikan adalah situasi pendidikan; metode ilmu
pendidikan terdiri atas metode kuantitaif dan metode kualitatif. Isi ilmu
pendidikan adalah konsep-, aksioma,  teori, model yang disusun secara
sistematis. Isi ilmu bersifat deskriptif dan obyektif.

B.  Pendidikan sebagai seni
Sebagai seni, pendidikan adalah sebagai suatu kegiatan yang melibatkan aspek,
emosi, kreativitas, improvisasi, apresiasi, terutama dalam prakteknya harus
disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Dalam prakteknya,
pendidikan tidak semata-mata terikat dan kaku untuk mengacu pada suatu teori
tertentu akan tetapi memerlukan penyesuaian.

C.  Praktek Pendidikan sebagai perpaduan ilmu dan seni
Artinya, pendidikan itu suatu kegiatan yang memadukan aspek ilmiah karena
berkenaan dengan suatu perbendaharaan teknik-teknik, prosedurprosedur dan
kecakapan-kecakapan yang dapat dipelajari dan diterangkan secara sistematis,
di samping dalam prakteknya perlu diadaptasi dan dikembangkan sesuai
dengan situais dan kondisi yang ada.

V.  LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN
A.  Pengertian dan cabang-cabang filsafat 
Filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan perenungan yang
mendasar, spekulatif-kontemplatif, dan universal dalam rangka menemukan
hakikat tentang segala aspek kehidupan manusia (hidup, agama, ilmu,
pendidikan, seni, dsb.)
B.  Aliran-aliran filsafat dan implikasinya dalam pendidikan
1.  Idealisme
Idealisme adalah aliran filsafat yang berpandangan bahwa alam semesta
ini adalah perwujudan intelegensi dan kemauan. Hal-hal yang bersifat
materil tergantung pada hal-hal yang bersifat spiritual atau rohaniah
b.  Konsep filsafat umum Idealisme
Hakikat realitas bersifat spiritual, kejiwaan, psikis atau rohaniah.
Hakikat manusia pada hakikatnya bersifat kejiwaan, manusia adalah
mahluk yang mampu berpikir. Hakikat pengetahuan diperoleh melalui
intuisi dan pengingatan kembali. Hakikat nilai bersifat absout atua
mutlak
c.  Implikasi dalam Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah pengembangan karakter, bakat insane dan
kebajikan  sosial. Isi pendidikan adalah pendidikan liberal, pendidikan
karakter. Metode  pendidikan: dialogic/dialektik. Peran pendidik:
menjadi teladan bagi siswanya baik secara moral maupun intelektual.
Peran peserta didik: bebas mengembangkan kepribadian dan bakatnya.
2.  Realisme
Adalah aliran filsafat yang memandang bahwa alam semesta ini bersifat
materil atau kebendaan yang keberadaannya  tidag tergantung pada hal-hal
yang bersifat spiritual.
a.  Konsep filsafat umum
Hakikat realitas bersifat materi atau fisik. Hakikat manusia terletak
pada apa yang dapat dikerjakannya. Hakikat pengetahuan, pengetahuan
yang benar diperoleh melalui indera. Hakikat nilai, tingkah laku
manusia diatur oleh hukum alam dan pada tingkat yang lebih rendah
ditentukan oleh pengalaman yang telah teruji.
b.  Implikasi dalam pendidikan
Tujuan pendidikan: manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan
lingkungan dan mampu melaksanakan tanggung jawab  sosial. Isi
pendidikan berupa pendidikan praktis.  Metode pendidikan:
conditioning/pembiasaan, latihan. Peran pendidik: pengelola legiatan
belajar, menentukan materi, memberikan motivasi. Peran peserta didik:
menguasai pengetahuan, mentaati didiplin yang ditentukan oleh guru.
3.  Pragmatisme
a.  Konsep filsafat umum 7

Hakikat realitas: bersifat fisik semata-mata. Hakikat manusia: hasil
evolusi biologis, sosial, dan psikis. Hakikat pengetahuan: pengetahuan
yang benar adalah yang memiliki nilai praktis bagi kesejahteraan
manusia. Hakikat nilai bersifat relative dan tergantung pada kondisi
yang ada.
b.  Implikasi dalam pendidikan
Tujuan pendidikan: mengembangkan pengalaman yang akan
memungkinkan manusia teraarah pada kehidupan yang baik. Isi
pendidikan: Pengalaman-pengalaman yang telah teruji  yang sesuai
dengan minat dan kebutuhan siswa, serta berbasis masyarakat. Metode
pendidikan: belajar melaui bekerja, pemecahan masalah. Peran
pendidikan: sebagai fasilitator. Peran peserta didik:  bebas
mengembangkan potensinya.
4.  Pancasila
a.  Konsep filsafat umum
Hakikat realitas: Alam semesta adalah ciptaan Tuhan YME, sumber
dari segala sumber yang ada. Hakikat manusia: mahluk Tuhan Yang
Maha Esa yang bersifat integral (utuh). Hakikat pengetahuan:
pengetahuan yang benar diperoleh melalui keimanan, berpikir,
pengalaman empiris, penghayatan, dan intuisi. Hakikat nilai: nilai yang
benar diturunkan dari Tuhan YME, dan bersumber dari nilai
masyarakat, dan individu.
b.  Implikasi dalam Pendidikan
Tujuan pendidikan: manusia yang utuh. Isi pendidikan: pendidikan
umum, akademik, dan profesional. Metode pendidikan: multi metode.
Peran pendidik: Tut wuri handayani, ing madyo mangun karso, ing
ngarso sung tulodo. Peran peserta didik: belajar memiliki kesempatan
untuk mengembangkan potensinya di bawah bimbingan pendidik.

VI.  LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN
A.  Perkembangan individu dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
1. Definisi dan prinsip-prinsip perkembangan 8

Perkembangan adalah suatu proses perubahan pada diri individu yang
berlangsung secara terus menerus sejak terjadinya pebuahan (conception)
hingga meninggal dunia. Adapun prinsip-prinsip perkembangan adalah:
a)  Berlangsung terus-menerus sejak pembuahan hingga meninggak dunia
b)  Kecepatan perkembangan tiap individu berbeda
c)  Semua aspek perkembangan saling berhubungan
d)  Arah perkembangan individu dapat diramalkan
e)  Perkembangan berlangsung secara bertahap
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
Ada dua faktor yang memperngaruhi perkembangan individu, yaitu faktor
hereditas atau pembawaan, dan faktor lingkungan yaitu segala sesuatu
yang ada di sekitar  kita baik lingkungan keluarga, sekolah maupun
masyarakat.
3. Tahap dan tugas-tugas perkembangan individu dan implikaisnya terhadap
perlakuan pendidik
Dalam masa hidupnya seseorang mengalami tahap-tahap perkembagan
tertentu, yaitu masa bayi dan kanak-kanak kecil (0-6 tahun), masa kanak-
kanak (6-12 tahun), masa remaja (12-18 tahun), masa dewasa (18-…
tahun). Pada setiap tahapnya, perkembangan individu itu memiliki
karakteristik yang berbeda dalam aspek fisik,  sosial-emosi, bahasa, dan
mental. Karakteristik perkembangan tersebut memberikan implikasi
terhadap peran orang dewasa/pendidik untuk menyelenggarakan
pendidikan yang tepat sesuai dengan masanya.

B.  Teori belajar dan implikasinya terhadap pendidikan
1.  Teori Belajar Kognitif
Teori belajar ini didasarkan pada asumsi bahwa (1) individu mempunyai
kemmapuan memproses informasi, (2) kemampuan memproses informasi
tergantung pada  faktor kognitif  yang perkembangannya berlangsung
secara bertahap sejalan dengan tahapan usianya, (3) belajar adalah proses
internal yang kompleks yang berupa pemrosesan informasi, (4) hasil
belajar adalah berupa perubahan struktur kognitif, (5) cara belajar anak-
anak dan orang dewasa berbeda sesuai dengan tahap perkembangannya.
2.  Teori Belajar behavioristik
Teori belajar ini didasarkan pada asumsi bahwa: (1) individu adalah
pribadi utuh, ia mempunyai kebebasan memilih untuk menentukan
kehidupannya, (2) individu mempunyai hasrat untuk menegetahui
(curiosity), hasrat untuk bereksplorasi, dan mengasimilasi pengalaman-
pengalamannya, (3) belajar adalah  fungsi seluruh kepribadian individu,
(4) belajar akan bermakna jika melibatkan  seluruh kepribadian individu
(relevan dengan kebutuhan individu, dan meilbatkan aspek intelektual
dan aspek emosional individu). 9

3.  Teori Belajar Humanistik
Teori belajar ini didasarkan pada asumsi bahwa: (1) hasil belajar adalah
berupa perubahan individu yang dapat diamati, (2) tingkah laku dan
perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar dimodifikasi oleh kondisi-
kondisi lingkungan, (3) komponen teori behavioristik ini adalah st imulus,
respon, dan akibat, (4) factor penentu yang penting sebagai kondisi
lingkungan dalam belajar adalah reinforcement.

VII.  LANDASAN SOSIOLOGIS DAN ANTROFOLOGIS PENDIDIKAN
A.  Individu, masyarakat, dan kebudayaan
Individu adalah manusia perseorangan sebagai kesatuan yang tidak dapat
dibagi, memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga bersifat unik serta
bebas mengambil keputusan atau tindakan atas pilihan dan tanggung
jawabnya sendiri (otonom). Masyarakat adalah setiap kelompok manusia
yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat
mengatur diri mereka  dan menganggap diri mereka  sebagai satu kesatuan
sosial dengan batas-batas yang dirumusakan dengan jelas. Kebudayaan yaitu
keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka
kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar

B.  Pendidikan sebagai sosialisasi dan enkulturasi
Sebagai sosialisasi, pendidikan berarti suatu proses mempersiapkan individu
agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan, sedangkan sebagai
enkulturasi, pendidikan berarti suatu proses mempersiapkan individu agar
menjadi manusia yang berbudaya.

C.  Pendidikan sebagai pranata sosial
Pendidikan sebagai pranata sosial dalam rangka proses sosialisasi dan/atau
enkulturasi untuk mengantarkan individu ke dalam kehidupan bermasyarakat
dan berbudaya, serta untuk menjaga kelangsungan eksistensi masyarakat 
dan kebudayaannya. 
 10

D.  Pendidikan informal, formal, dan non formal
Pendidikan informasl adalah pendidikan yang berlangsung secara wajar atau
alamiah di dalam lingkungan hidup sehari-hari (keluarga, pergaulan teman
sebaya, pergaulan di tempat bekerja, ritual keagamaan, adat-istiadat).
Pendidikan formal adalah pendidikan yang berlangsung di jalur pendidikan
yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar,
pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Pendidikan non formal adalah
pendidikan yang berlangsung di luar jalur pendidikan formal yang dapat
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang  dalam waktu yang relative
singkat dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan
fungsional, serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional
(pelatihan penataran, seminar, kelompok belajar, kursus)

E.  Pola kegiatan sosial dalam pendidikan
Ada tiga jenis pola kegiatan sosial dalam pendidikan, yaitu (1) pola kegiatan
sosial  nomothetis adalah pola kegiatan  sosial  yang lebih menekankan pada
dimensi tingkah laku yang bersifat normatif, pendidikan adalah sosialisasi
kepribadian,  pendidikan adaah upaya pewarisan  sosial  kepada generasi
muda; (2) pola klegiatan  sosial  ideografis adalah pola kegiatan  sosial  yang
lebih menekankan pada dimensi tingkah laku yang bersifat
individual/perseorangan. Pendidikan adalah  sebagai personalisasi peranan
yaitu upaya  membangun seseorang untuk mengetahui  dan mengembangkan
apa yang ingin diketahui dan dikembangkannya; Pola kegiatan  sosial
transaksional adalah pola kegiatan yang mengutamakan keseimbangan
berfungsinya dimensi tingkah laku nomothetis dan  ideografis. Pendidikan
adalah suatu system sosial yang bersifat demokratis.

VIII.  LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN
A.  Pendidikan pada zaman Purba Hingga Zaman Pemerintahan Kolonial
Belanda 11

1. Pendidikan pada zaman purba
Pada zaman purba pendidikan berlangsung secara informal yang
dilaksanakan langsung oleh orang tua masing-masing. Materinya bersifat
praktis. Tujuan pendidikan agar generasi muda dapat mencari nafkah,
membela diri, bermasyarakat, taat terhadap adat dan nilai religi
2. Pendidikan pada zaman Hindu Budha
Pendidikan diselenggarakan di dalam keluarga dan lembaga perguruan.
Tujuan pendidikan adalah agar manusia mencapai moksa/nirwana. Isi
pendidikan pengetahuan agama  Hindu/Budha. Kesempatan pendidikan
bersifat aristokratis. Metode pendidikan system guru kula.
3. Pendidikan pada zaman kerajaan Islam
Tujuan pendidikan agar manusia bertqwa kepada Allah SWT, isi
pendidikan berupa pengetahuan agama Islam. Metode pendidikan:
tabligh, halaqoh, sorogan, nadoman. Kesempatan pendidikan: demokratis
4. Pendidikan zaman pengaruh Portugis dan Spanyol
Pengaruh bangsa Portugis dalam bidang pendidikan utamanya berkenaan
dengan penyebaran agama katolik. Demi kepentingan tersebut tahun
1536 nereka mendirikan sekolah (seminarie) di Ternate dan Solor.
Kurikulumnya  adalah pendidikan agama Katolik ditambah pelajaran
membaca, menulis dan berhitung. Pendidikan diberikan kepada anak-
anak masyarakat terkemuka.
5. Pendidikan zaman pemerintahan kolonial Belanda
Sebagai implikasi dari kondisi politik, ekonomi, dan  sosial  budaya di
Indonesia pada zaman ini, secara umum dapat dibedakan dua garis
penyelenggaraan pendidikan yaitu: (1) pendidikan yang diselenggarakan
oleh pemerintah colonial Belanda, (2) pendidikan yang diselenggarakan
oleh rakyat dan kaum Pergerakan Kebangsaan sebagai sarana perjuangan
demi merebut kembali kemerdekaan dan sebgaia upaya rintisan ke arah
pendidikan nasional.

B. Pendidikan oleh  kaum pergerakan nasional sebagai sarana perjuangan
kemerdekaan dan penyelenggaraan pendidikan nasional
Setelah  tahun 1900 usaha-usaha partikelir di bidang pendidikan
berlangsung  dengan sangat giat. Untuk mengubah keadaan akibat
penjajajahan, kaum pergerakan sekolah partikelir yang diselenggarakan
para perintis kemerdekaan. Ada dua corak sekolah pada zaman ini:
1.  Sekolah yang sesuai haluan politik (Taman Siswa, Ksatriaan Institut,
INS Kayu Tanam
2.  Sekolah yang sesuai dengan tuntutan agama (Islam) seperti NU,
Muhammadiyah, Sumatera Tawalib; dan yang didirikan oleh kaum
wanita (RA Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus)

C.  Pendidikan Zaman Pendudukan Militerisme Jepang
Karakteristik pendidikannya adalah: 
1.  Tujuan dan isi pendidikan diarahkan demi kepentingan orang Asia Timur
Raya
2.  Hilangnya system dulisme dalam pendidikan
3.  Sistem pendidikan menjadi lebih merakyat

D.  Pendidikan  Indonesia Periode Tahun 1945-1969 dan pada masa
Pembangunan jangka panjang Tahap I: 1969-1993
1.  Pendidikan pada Periode Tahun 1945-1969
Tahun 1945 adalah masa peletakkan dasar pendidikan nasional yang
dilaksanakan sesuai jiwa UUD 1945. Pemerintah mengusahakan
terselenggaranya pendidikan nasional yang demokratis, yaitu kewajiban
belajar SD bagi anak-anak usia 8 tahun. Pada masa ini juga mulai
didirikan perguruan tinggi
2.  Pendidikan pada masa PJP I
Di dalam rumusan-rumusan kebijakna pokok pembagunan pendidikan
selama PJP I terdapat beberapa kebbbijakan yang teris dikemukakan,
yaitu: relevansi pendidikan, pemerataan pendidikan, peningkatan mutu
guru atau tenaga kependidikan, mutu pendidikan, pendidikan kejuruan.


IX.  LANDASAN YURIDIS PENDIDIKAN
A.  Cita-cita dan Amanat UUD RI 1945 mengenai Penyelenggaraan Sistem  
Pendidikan Nasional
Cita-cita penyelenggaraan SPN tersurat pada alinea IV Pembukaan UUD
1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Adapun amanat pendidikan
tersurat pada Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi: “Pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan  nasional
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-
undang.

B.  Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

C.  Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan adalah criteria minimaltentang system
pendidikan di seluruh wilayah hokum NKRI (Pasal 1 ayat 1). Lingkup SNP
meliputi: (1) standar isi, (2) standar proses, (3) standar kompetensi lulusan,
(4) starndar pendidik dan tenaga kependidikan, (5) standar sarana dan prasana
pendidikan, (6) standar pengelolaan, (7) standar pembiayaan, dan (8) standar
penilaian pendidikan.

D.  Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi pederta
didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan
dasar, dan pendidikan menengah (Pasal 1 ayat 1).
Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk
melaksanakan system pendidikan nasional dan mewujdukan tujuan
pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi eserta didik agar menjadi
manusia  yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga Negara yang
demokratis dan bertanggung jawab.






0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © Batavia Official Blog